
Beberapa hari terakhir, Indonesia, hampir secara menyeluruh, dilanda hujan. Dibeberapa daerah bahkan dilanda kebanjiran dan longsor yang sangat menyedihkan di akhir tahun 2007. Makassar secara khusus, dapat dikatakan daerah yang cukup aman dari musibah banjir walaupun dibeberapa titik terjadi genangan. Di malam penghujung tahun ini, hujan masih menemani masyarakat kita bergembira menyambut tahun baru sekaligus bersedih bersama riak kecil banjir disekeliling rumah.
Malam menjelang tahun baru, saya bersama rekan-rekan berangkat kerumah rekan untuk melaksanakan Tahlilan. Letak rumahnya di Jalan Somba Opu yang berseberangan dengan Pantai Losari yang merupakan titik teramai untuk ritual malam tahun baru di Makassar. Walaupun akses menuju rumah duka ditutup, Alhamdulillah, kita bisa lolos dengan alasan tadi. Acaranya berjalan dengan lancar dan khusyuk meskipun sudah banyak warga yang membunyikan petasan dan lain-lainnya di waktu yang bersamaan. Syukur hujan belum turun.
Pulangnya, jalan kaki menjadi pilihan dikarenakan padatnya arus warga dan juga ditutupnya seluruh akses yang menuju ke pantai losari. Pada jam 10.00 malam ini, Langit makassar sudah memerah. Mungkin juga, merah dengan kembang api di udara yang hampir tiap menit menghiasi kota. Lagi, hujan belum turun.
Tak terasa, waktu yang ditunggu-tunggu itupun tiba. Tak ada sesuatu yang istimewa di malam ini. Kemeriahan kembang api yang disambut warga mungkin agak terasa miris jika dibandingkan dengan kemeriahan malam tahun baru di beberapa cakupan wilayah negara kita yang mengalami bencana alam.
SMS yang masuk dari rekan saya di Jimbaran Bali, di daerahnya lagi hujan deras, meriah gak yah malam ini disana? pikirku. Sambutan 2008 ini, menurutku, sebenarnya tergantung dari masing-masing kita yang menyambutnya. sebagai pertimbangan, Erlinku pun beserta rekan sekantornya menikmati malam tahun baru yang begitu ceria dan meriah di daerah pinrang sambil menyelesaikan laporan akhir tahun hingga jam 1.00 malam di kantornya. Asyik kan? Capekkan? hehehe..
Buat rekan semua, Selamat Tahun Baru 2008, Semoga tahun 2008 lebih baik dari tahun 2007.Berikanlah yang terbaik untuk diri dan orang lain lebih banyak lagi.
(saat ini, hujan telah turun, seperti hari-hari yang lalu...)
December 31, 2007
Selamat Tahun Baru 2008
Dipajang oleh
Abdillah Khomayni
pada
9:38 AM
1 komentar
Cerita: curhat
December 22, 2007
Gambar pemimpin dunia

Sambil mencari-cari artikel dan berita perkembangan perpolitikan timur tengah, gak sengaja saya sampai disitus ini. Situs forum semacam kaskus di indonesia. Banyak hal yang bisa kita dapatkan sembari meramu opini para penulis tentang berbagai gejolak dan diskursus belakangan ini terjadi. Hal yang menarik dalam situs ini, si admin mendisplay foto2 pemimpin /mantan pemimpin dunia dari beberapa sumber. mulai dari foto masa kecil adolf hitler hingga foto Kim Jong Il muda.
Anda bisa melihatnya disini. Begitu pula, saya mendapatkan link tentang gambar percobaan dan eksaminasi cloning di Iran. Walau hal ini masih menjadi perdebatan dunia dan periset, namun setidaknya bisa kita lihat gambar nya disini.
Dipajang oleh
Abdillah Khomayni
pada
9:04 AM
0
komentar
Cerita: berita
No more books, no more handwriting

Of course books are going to go by the wayside, just as newspapers are doing. Anything "disposable"--and yes, our textbooks are disposable--is going to disappear. Trying to keep them updated is essentially impossible. As soon as they go to the printer they're outdated. I think that the trade-book market will stay alive--people like to hold pages in their hands, and keep them on the shelves like old friends. But few people get textbooks for fun and run through them over and over ....
Handwriting is going to disappear, also. Why learn to write when you can type so much faster? (If only Dvorak was standard on the keyboard. Instead it's a sign of computer geekism. It's sort of like being bilingual, for me.) I took handwriting classes when I was a child, even caligraphy, and yet my handwriting is nowhere near as meticulous as that of educated people 100 years ago. How will people give legal consent and agreement, if they can't even sign their name? Perhaps they'll learn only that, or we'll switch to the much-touted DNA, fingerprint, and retina-scans instead.
Words represent thoughts. It's my belief that having mental access to more words allows for more flexibility of thought, more intricate and intelligent thoughts. If IQ's are getting higher, there must be some compensation for the change in vocabulary level.
The generation in basic education now, born around 2000, may be a gap-generation. Neither fish nor fowl. Not accustomed to learning from online textbook sources, learning handwriting and grumpy about taking keyboarding classes, yet completely up-to-date on technology (that I fall behind on ... I'm too cheap yet to own a cell-phone). But brains are flexible and people learn a huge amount in their early 20's, too, so now's the time to switch over. Good place to do some research, checking out how children's brains change if they don't learn to write, but instead learn only to keyboard.
Dipajang oleh
Abdillah Khomayni
pada
1:35 AM
0
komentar
Cerita: curhat
Makassar hujan terus..
Dalam pekan ini, hujan menjadi sahabat akrab kota Makassar. Ramai, saling bersahutan, kadang tenang tapi sering kita jumpai deras menyapa warga. Beberapa hari sebelum Hari Raya Idul Adha , Hujan sangat sulit diajak kompromi lagi. walaupun banyak aktifitas diluar, saya tetap beradu dengan kencang angin membawa hujan. meski tak membasahi seluruh, tapi cukup merepotkan. kekhawatiran akan terjadi banjir masih menjadi hal sepele dalam benak.
Shalat Ied kemarin pun masih diiringi dengan hujan deras. Hampir semua Jamaah Ied yang berbaris dipelataran Masjid Al-Markaz Al-Islamy menyelamatkan diri walaupun masih ada juga yang masih bertahan sambil dengan khusyuknya mendengarkan hikmah Ied.
Aku berdoa aja moga tidak seperti di daerah jakarta yang selalu rame dengan berita banjritnya. Namun sering kembali berpikir, kondisi Lapangan karebosi dulu saja, sekitar rumah ku sering kebanjiran, bagaimana dengan nanti yah dengan segala bangunan betonnya?
Aah, lupakan! bakso ini masih terasa hangat tuk dinikmati sambil menunggu hujan reda di perempatan adhyaksa-pengayoman.
Dipajang oleh
Abdillah Khomayni
pada
1:12 AM
0
komentar
Cerita: peristiwa


