July 17, 2007

SWOT vs SOAR

Satu lagi alternatif dalam proses perencanaan strategis di luar analisis SWOT, yaitu pendekatan SOAR (Strengths, opportunities, aspirations, results). Dimanakah letak perbedaannya dengan SWOT?(oleh A. B. Susanto).
Biasanya, SWOT diawali dengan melakukan review pernyataan visi dan misi, yang dilanjutkan dengan review terhadap tujuan, sasaran, strategi, rencana, dan kebijakan yang ada. Setelah dilakukan review terhadap situasi saat ini dan masa lalu, mulailah dilakukan analisis SWOT. Melalui analisis ini, data-data dikumpulkan guna menjawab pertanyaan mengenai kondisi organisasi saat ini dan di masa depan (strengths, weaknesses) serta prediksi mengenai pasar/industri yang dimasuki (opportunities, threats). Berdasarkan analisis SWOT, rekomendasi dibuat guna menentukan strategi alternatif yang terbaik bagi organisasi.
Menurut para pencetus SOAR, dalam kaitannya dengan perubahan yang akan dilakukan oleh organisasi, analisis SWOT ini memiliki kekurangan. Dalam proses perencanaan dengan analisis SWOT, perusahaan harus menghabiskan sebagian waktunya guna memikirkan hal-hal positif (strengths, opportunities) dan sebagiannya lagi untuk mengurusi hal-hal negatif (weaknesses, threats). Namun kenyataannya, manusia cenderung lebih suka menonjolkan hal-hal negatif (weaknesses, threats). Padahal, kita cenderung lebih suka melupakan kekurangan dan pengalaman buruk yang terjadi di masa lalu. Kita akan lebih termotivasi manakala menyadari bahwa kelebihan atau kekuatan yang kita miliki dapat memberikan kontribusi bagi kemajuan organisasi.
Untuk itulah Stavros, Cooperrider, dan Kelly menawarkan konsep SOAR (Strengths, opportunities, aspirations, results) sebagai alternatif terhadap analisis SWOT., yang berasal dari pendekatan Appreciative Inquiry (AI). Pendekatan AI lebih menitikberatkan pada pengidentifikasian dan pembangunan kekuatan dan peluang ketimbang pada masalah, kelemahan, dan ancaman.
Pendekatan SOAR terhadap rencana strategis memiliki beberapa keuntungan dibandingkan dengan model tradisional. Analisis SOAR memungkinkan anggota organisasi menciptakan masa depan yang mereka inginkan sendiri dalam keseluruhan proses dengan cara melakukan penyelidikan, imajinasi, inovasi, dan inspirasi. Fokus internal SOAR adalah kekuatan organisasi. SOAR juga digunakan untuk analisis eksternal, misalnya analisis mengenai pemasok dan pelanggan. Keuntungan lainnya berkaitan dengan partisipasi. Pada banyak organisasi, perencanaan strategis hanya melibatkan orang-orang pada tingkatan tertinggi serta sekelompok stakeholder. Namun dalam kerangka kerja SOAR, sebanyak mungkin stakeholder dilibatkan, yang didasarkan pada integritas para anggotanya. Masalah integritas menjadi sangat penting karena para stakeholder harus menyadari asumsi-asumsi yang menjadi dasar penggerak bagi para pemimpin organisasi.
Analisis SOAR bagi perencanaan strategis dimulai dengan penyelidikan (inquiry) yang menggunakan pertanyaan positif guna mempelajari nilai-nilai inti, visi, kekuatan, dan peluang potensial. Dalam fase ini, pandangan-pandangan dari setiap anggota organisasi dihargai. Penyelidikan juga dilakukan guna memahami secara utuh nilai-nilai yang dimiliki oleh para anggota organisasi serta hal-hal terbaik yang pernah terjadi di masa lalu. Kemudian anggota organisasi dibawa masuk ke dalam fase imajinasi, memanfaatkan waktu untuk “bermimpi” dan merancang masa depan yang diharapkan. Dalam fase ini, nilai-nilai diperkuat, visi dan misi diciptakan. Sasaran jangka panjang dan alternatif strategis dan rekomendasi diumumkan. Fase ketiga adalah inovasi, yaitu dimulainya perancangan sasaran jangka pendek, rencana taktikal dan fungsional, program, sistem, dan struktur yang terintegrasi untuk mencapai tujuan masa depan yang diharapkan. Guna tercapainya hasil terbaik yang terukur, karyawan
harus diberikan inspirasi melalui sistem pengakuan dan penghargaan.
Salah satu contoh sukses dari pemanfaatan analisis SOAR ini adalah kisah Roadway Express, sebuah perusahaan transportasi yang berpusat di Akron, Ohio (AS), yang pada suatu saat menyelenggarakan sebuah meeting tentang perencanaan strategis di salah satu fasilitas mereka di Winston-Salem. Hampir 300 orang yang terdiri dari pekerja dan pengemudi berkumpul bersama-sama dengan manajemen dan pelanggan serta para stakeholder lain dari wilayah Winston-Salem guna mendiskusikan strategi menjadikan perusahaan sebagai pemimpin dalam industri transportasi. Di hari pertama meeting, mereka memetakan seluruh kekuatan-kekuatan yang dimiliki oleh perusahaan dalam hubungannya dengan pasar. Hari kedua, mereka mengidentifikasikan peluang-peluang bisnis, yang diikuti dengan artikulasi aspirasi yang lebih selektif. Pada hari ketiga, aspirasi ini dibuat menjadi lebih konkret dan spesifik, yang kemudian diterjemahkan ke dalam hasil-hasil yang telah diantisipasi, termasuk seleksi
kebijakan-kebijakan dan pengukuran-pengukuran bisnis yang cermat. Hasilnya pada tahun berikutnya Roadway Express mengalami peningkatan pendapatan kurang lebih sekitar 25%. Harga sahamnya pun mengalami kenaikan. Hal ini mendorong perusahaan untuk lebih banyak menyelenggarakan meeting sejenis guna membahas perencanaan strategis. Namun bagi Roadway Express, meeting seperti ini bukan hanya bertujuan untuk menyusun strategi yang lebih baik, namun juga bagi pengembangan sumber daya manusia. Roadway Express ingin menyusun proses pemikiran strategis yang dapat dimanfaatkan dalam aktivitas keseharian perusahaan guna menangkap peluang-peluang baru. Setelah diselenggarakannya sebuah pertemuan di Akron, misalnya, sekelompok ahli mekanik menciptakan sebuah visi yang berpotensi menciptakan penghematan hingga bernilai milyaran dolar. Dalam contoh lain, pertemuan di Winston-Salem telah menjadikan para pengemudi bersedia secara sukarela menjadi tenaga penjual produk perusahaan. Hal ini
mampu meningkatkan pendapatan perusahaan senilai lebih dari satu juta dollar AS.
Menurut para pencetusnya, SOAR mampu menghasilkan sebuah energi yang bertahan lama serta menghidupkan kreativitas. SOAR menghargai arti sebuah kekuatan dan kesuksesan sekecil apapun, karena terjadinya hal-hal yang besar selalu diawali dari hal-hal kecil.
Memang kehadiran SOAR relatif masih hijau dibandingkan kemapanan SWOT, dan masih perlu pembuktian eksistensinya lebih lanjut. Namun tawaran alternatif ini akan semakin memperkaya khasanah analisis strategis.

Lanjut?

July 12, 2007

Why oh why?


Sometimes jealousy comes so naturally like a temptation and your ability to overcome it and lay it aside tells better of you and your character.
I always overcome my jealousy, but some people confronted with this jealousy always give-in and they are consumed by this jealousy.
Some people do things and they don’t ever wonder why they did it. If they could only ask themselves why they are doing it, maybe they could have avoided so many mistakes in life. Some people do things that they know are wrong and sometimes get away lucky and they don’t ever ask themselves why they did it.
Others do it and they are caught red-handed and when you ask them why they did it, they say it was not their fault, that the devil made them do it. Did they take permission from the devil before doing it? Perhaps they asked for the devil’s blessings before they indulged in it.
So many wrongs and wickedness that are done by thoughtless people, but at the end they lay the blame on the devil. Perhaps the devil will need to stand legal trial someday in our courts of law...

Lanjut?

A WAKE UP CALL TO ALL

Recent happenings around the world proves that the survival and development of the nations of the earth lies within the capacity of the youths of the world. Developmental activities cuts and trancend beyond geographical limitations and boundaries, hence the need to effectively network with likeminded youths the world over to synergize in order to bring about the long awaited change.

In line with the United Nations' MDGs, I am making this wake up call to you all not to be comfortable with your present state and rise up to the challenge of national and international development. Most especially, youths in underdeveloped and developing nations of the world.
Would you just fold your arms and look at your motherland/fatherland get utterly destroyed by power hungry individuals? Remeber, home sweet home, there's no place like home come what may!
I am calling unto you all to take up the challenge and network with the youths at home who have not intermeddled with the evel geniuses of our present day.
A word is enough for the wise.

Lanjut?

World of Tech

Triumphant

The door closes
only person in the room
Nothing stirs, but pads on a board
Clickety clack!
It’s twenty-first century
Technology
The centre of man’s inventions
Human invention in the centre
Of attention ALiving without a mind
Life without life
Eats up your imagination
Reminding you of-

It leaves you hollow as a soccer ball
Empty
Inorganic compounds

Each person secluded in a little box
In another box of a box of a box
Secluded from the outside world
Eyes centred on an electrical outlet of
Information

It never stops
I keep working and working
Beep beep someone’s talking to me
Zeet zeet means I got new emails
Bow wow!! It’s really important
I turn around to see I’ve lost my pen
Look the other way, a phone call
Hello, this is –

Madness!! I can’t take my eyes off
Sucking up a bright screen
Looking, searching, hunt-

Unlike the caveman days
Finding food
Hunting animals
Killing
Killing for self-nourishment

Like the caveman days
Hiding in
A cyber cave of too much stuff
Square light as fire
Shining on us and darkness
Keeping us warm and guarded
What thoughts
But killing and killing
Brains turning to mush
Your thoughts run wild as blocks of –

Things stand stationary
Life stands still
It’s black, white and
Metallic
City of colorful lights
Static
In the blowing wind

Computer,
who is most superior?
Memory fades, I don’t remember
But you,
Do you know all?
I take a lifetime to learn
Few simple things
I’m compelled
You can talk
Please, a lasting question
Can you –

Life has no meaning!
You live with no reason
Success is made up
There is no end
You can’t get to the top
There is no end
You cannot contend

Please respond

Quicker

Faster

Need an upgrade?

Currently updating
Processing 3% complete

9% complete

Downloading 30% complete

Don’t worry, you’re human
not a machine
Nothing scary, you’re human
not a machine

50% complete

It’s all over, you’re a machine


1 0 0 %


Process complete


Not a human

Lanjut?

24 Things To Always Remember

Your presence is a present to the world.
You are unique and one of a kind.
Your life can be what you want it to be.
Take the days just one at a time. Count your blessings, not your troubles.
You will make it through whatever comes along.
Within you are so many answers.
Understand, have courage, be strong.

Do not put limits on yourself.
So many dreams are waiting to be realized.
Decisions are too important to leave to chance.
Reach for your peak, your goal and you prize.

Nothing wastes more energy than worrying.
The longer one carries a problem the heavier it gets.
Do not take things too seriously.
Live a life of serenity, not a life of regrets.

Remember that a little love goes a long way.
Remember that a lot … goes forever.
Remember that friendship is a wise investment.
Life’s treasure are people together.

Realize that it is never too late.
Do ordinary things in an extraordinary way.
Have hearth and hope and happiness.
Take the time to wish upon a start.

AND DO NOT EVER FORGET ….
FOR EVEN A DAY
HOW VERY SPECIAL YOU ARE !

Lanjut?

July 5, 2007

Solusi Konkrit Penyelesaian konflik Maluku II

(Sambungan dari yang pertama) Fakta terbaru, isu teroris dan pengeboman (akibat propaganda Yahudi Amerika dan Eropa) yang menyita perhatian dunia, terkesan disikapi secara berlebihan oleh pemerintah, sebagai bukti pemerintah melalui Detasmen Khusus (DENSUS) 88 Anti Terornya terlihat cukup responsif dalam melacak setiap aksi teroris yang terjadi, sebegitu cepatnya hingga dalam hitungan jam aksi tersebut dapat diungkap bahkan bila perlu sampai pada identifikasi pelaku kejahatan. Hal ini mengundang tanya kenapa pada konflik Maluku tidak terjadi hal yang demikian? Dalam hal ini bukan berarti kita menutup mata apalagi meremehkan konflik yang terjadi di Aceh, Papua dan aksi-aksi teror serta pengeboman yang terjadi di Indonesia, akan tetapi cobalah pemerintah dengan hak politik dan segala kewenangannya menyatakan secara tegas bahwa status konflik Maluku sama dengan yang terjadi di Aceh dan Papua sebagai tindakan separatis yang mengarah pada disintegrasi bangsa yang bentuk penyelesaiannya pun harus melibatkan komponen bangsa ini secara kolektif.
Menarik untuk dicermati adalah gerakan separatis RMS, sesungguhnya lebih berbahaya dibandingkan dengan Terorisme. Mengapa demikian? Alasan paling mendasar adalah obyek dari terorisme itu sendiri. Obyek terorisme di Indonesia adalah semua aset Yahudi Amerika dan kroni-kroninya. Terorisme terjadi sebagai reaksi ketidakpuasan pelaku teror terhadap tindakan-tindakan Yahudi Amerika CS yang sebenarnya sebagai pelaku pelanggaran HAM nomor wahid di dunia.
Kalaupun aksi Terorisme ini berakibat fatal pada stabilitas bangsa dan pelanggaran terhadap HAM dan menimbulkan rasa tidak aman bagi setiap orang dalam melakukan aktifitasnya namun disisi lain hal itu tidak mengancam pada upaya disintegrasi bangsa. Argumentasi ini bukan berarti membenarkan aksi-aksi teror yang terjadi selama ini akan tetapi sekedar mengkomparasi akibat yang ditimbulkan oleh aksi teroris dan separatis.
Sedangkan Separatis RMS bukan saja menjadi bahaya laten bagi bangsa Indonesia sejak tahun 1950, tetapi telah melanggar HAM dan Kemanusiaan hingga melahirkan rasa traumatik yang berkepanjangan. Selain itu Separatis RMS sesungguhnya adalah Teroris sejati karena senantiasa menebarkan aksi teror demi mewujudkan keinginannya. hal ini bermuara pada ancaman serius terhadap ketahanan nasional sebab mengarah pada upaya pemisahan diri (disintegrasi) dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Fenomena yang berkembang terakhir, justru aktifitas gerakan Separatis RMS semakin marak, hal ini ditandai dengan tetap dilaksanakannya upacara peringatan hari ulang tahun RMS setiap tahun walaupun dalam pengawalan aparat keamanan yang melibatkan ribuan personil, pengibaraan bendera RMS, pengeboman di tempat-tempat umum di Kota Ambon, dan yang paling anyar adalah penemuan 60 lembar bendera Separatis RMS, amunisi jenis SS1 dan ratusan kain berwarna yang siap dijadikan bendera RMS yang nantinya disiapkan sebagai KADO MANIS khusus untuk menyambut kedatangan bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan rombongan serta undangan dalam peringatan HARGANAS di Ambon, yang ditemukan dari salah satu rumah warga, di Kelurahan Batu Meja, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon pada tanggal 22 Juni 2007.
Mestinya hal itu telah menjadi warning bagi seluruh aparat keamanan di Maluku, akan tetapi yang terjadi kemudian justru aksi Separatis RMS dengan leluasanya membentangkan bendera ”BENANG RAJA” di depan Presiden Republik Indonesia. Tindakan ini merupakan preseden buruk yang bukan saja telah merendahkan harkat dan martabat bapak Susilo Bambang Yudhoyono secara pribadi, Presiden maupun sebagai Kepala Negara, akan tetapi KEDAULATAN NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA TELAH DIINJAK-INJAK OLEH SEPARATIS RMS.
Tindakan berani yang dilakukan oleh Separatis RMS dengan momen HARGANAS, sesungguhnya dalam rangka menarik simpati dunia sekaligus Shock teraphy bagi bangsa Indonesia, sebagai bukti bahwa Separatis RMS masih eksis di bumi Maluku. Hal ini jangan dilihat dari kuantitas personil yang muncul dipermukaan, sebab itu tidaklah menjadi ukuran dalam menilai gerakan Separatis RMS, karena akibat yang ditimbulkan tetaplah mengancam dan berbahaya bagi kedaulatan bangsa dan negara Republik Indonesia.
Seminggu sebelumnya, informasi yang telah disampaikan oleh Badan Intelijen bahwa Separatis RMS akan beraksi pada Peringatan HARGANAS, sebagai bentuk kehati-hatian khususnya pada TNI/POLRI dalam melakukan pengamanan pada peringatan tersebut. Termasuk penemuan beberapa bendera, amunisi dan dokumen Separatis RMS pada tanggal 22 Juni 2007. mestinya informasi dan penemuan atribut Separatis RMS tersebut, menjadi bahan evaluasi dalam pengamanan peringatan HARGANAS. Akan tetapi hal tersebut tidak ditindaklanjuti secara serius oleh aparat keamanan di Maluku. Lebih tragis lagi, preseden yang memalukan dan menodai citra bangsa Indonesia ini, h a n y a dinyatakan sebagai KECOLONGAN bukan KESENGAJAAN yang telah direncanakan sebelumnya oleh Separatis RMS.
Hal ini sangatlah memilukan, dua institusi keamanan negara secara sadar telah di permalukan oleh Separatis RMS di hadapan rakyat Indonesia dan dunia, masih saja dikatakan sebagai aksi segelintir orang yang tidak berbahaya. Justru yang sangat disayangkan ucapan itu dilontarkan oleh Yang Terhormat Bapak Wakil Presiden RI (Yusuf Kalla) ”bahwa tindakan RMS yang dilakukan dalam insiden HARGANAS merupakan aksi segelintir orang dan orang Islam pun ada yang RMS” kalimat itu bukan saja telah menyimpang dari sejarah perjuangan Indonesia akan tetapi lebih dari pada itu telah melukai perasaan Rakyat Maluku Pro NKRI. Dan bentuk pengingkaran terhadap perjuangan Para Syuhada bangsa yang gugur mulai dari tahun 1950 sampai dengan tahun 1999 sebagai wujud tanggungjawab dalam mempertahankan Wilayah Kesatuan Republik Indonesia dari pemberontakan Separatis RMS.
Dari Insiden HARGANAS, ada hikmah yang mesti dipetik bahwa Persoalan Konflik Maluku belum selesai selama Gerakan Separatis RMS belum dimusnahkan dari Bumi Maluku dan Indonesia. Mengomentari hal tersebut terlepas dari skenario politik dan Upaya Komersialisasi RMS sebagai komoditas oknum tertentu di Maluku, sewajarnya konflik Maluku bukan hanya difokuskan sebatas pada pengusutan inseden HAGARNAS yang memalukan itu.
Mutasi para pejabat yang bertanggungjawab dalam insiden HARGANAS bukan solusi terbaik penyelesaian konflik Maluku, karena selama aktor intelektual Separatis RMS belum di perangi maka konflik di Maluku tidak akan pernah tuntas.
Aksi yang s e n g a j a dipertontonkan oleh Separatis RMS dalam bentuk tarian perang ”Cakalele” hanyalah Show Force terhadap republik ini, naman hal ini jangan dipandang sebagai tindakan sepele, sebab hal tersebut merupakan bagian dari Grand Design, perang urat saraf, perang dingin atau apapun namanya, sebagai modus baru pergerakannya. Olehnya itu dibutuhkan sikap serius dari pemerintah dalam menangani persoalan Separatis RMS di Maluku karena akibat yang ditimbulkan lebih berbahaya dari sekedar aksi teroris.
dengan kata lain “Teroris Belum Tentu Separatis, Tetapi Separatis Sudah Pasti Teroris”.

Untuk itu dirasa perlu adanya upaya-upaya konkrit yang mestinya segera dilakukan, untuk selanjutnya di tindak lanjuti sebagai berikut :
1.Meminta kepada pemerintah RI untuk mengeluarkan keputusan hukum melalui lembaga hukum ataupun melalui keputusan politik pemerintah untuk menyatakan Gerakan Separatis RMS sebagai organisasi terlarang di Indonesia.
2.Meminta sikap tegas pemerintah RI untuk menyatakan bahwa Separatis RMS adalah pihak yang paling bertanggungjawab terhadap pelanggaran hukum dan HAM dalam konflik Maluku sejak Tahun 1999 sampai saat ini.
3.Meminta kepada Pemerintah RI agar Rekonsiliasi Malino II dinyatakan batal demi hukum karena tidak representatif dan telah mencederai proses penegakan hukum di Indonesia.
4.Menuntut Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (KOMNAS HAM) untuk melakukan investigasi terhadap tindakan pelanggaran HAM di Maluku selama konflik.
5.Meminta kepada Badan Intelijen Negara (BIN) untuk segera mengungkap mata rantai dari gerakan Separatis RMS yang telah melakukan makar terhadap NKRI.
6.Meminta kepada pemerintah RI untuk segera menangkap dan menghukum mati pimpinan Front Kedaulatan Maluku (FKM) dr. Alex Manuputty.
7.Mendesak kepada pemerintah RI khususnya POLDA MALUKU agar lebih tegas dalam mengungkap konspirasi RMS dengan tidak hanya melakukan penyitaan terhadap atribut-atribut gerakan Separatis RMS saja, akan tetapi diperlukan tindakan lain yang tidak bertentangan dengan hukum (diskresi) seperti perintah tembak mati di tempat bagi siapa saja yang membuat, menyimpan, menaikkan bendera RMS dan/atau melakukan aktivitas RMS dalam bentuk apapun.
8.Meminta/mendesak Gubernur dan Ketua DPRD Propinsi Maluku, agar dalam penyelesaian konflik Maluku tidak hanya difokuskan sebatas pada pengusutan inseden HARGANAS, tetapi lebih difokuskan pada pengusutan aktor-aktor intelektual Separatis RMS.
9.Meminta dengan hormat kepada seluruh elemen masyarakat dan elite politik, agar tidak mengeluarkan pernyataan berkenaan dengan Separatis RMS yang tidak sesuai dengan fakta dan realita, karena akan berdampak negatif di masyarakat.

Dengan dilakukannya upaya-upaya konkrit diatas, adalah bukti sikap tegas pemerintah RI terhadap penyelesaian konflik Maluku. Dengan demikian proses hukum yang dilakukan mengangkat harkat dan martabat manusia bagi korban dalam konflik Maluku. Jatuhnya korban dan keluarga yang ditinggalkan membutuhkan pengakuan pemerintah bahwa apa yang mereka lakukan adalah wujud nasionalisme yang sesungguhnya. Semoga mereka yang telah pergi meninggalkan kita adalah yang terpilih untuk meluruskan langkah kita selanjutnya. Amin!
Demikianlah pernyataan yang kami buat, dengan harapan dapat dimaklumi untuk selanjutnya ditindaklanjuti.

Lanjut?

Solusi Konkrit Penyelesaian Maluku I

Konflik kemanusiaan yang terjadi di Maluku atau Kota Ambon sejak tahun 1999, yang lebih dikenal dengan peristiwa Idul Fitri Berdarah sampai saat ini belum ada penyelesaian yang kongkrit dan tidak menyentuh akar persoalan. Kesalahan terbesar dari Pemerintah Republik Indonesia (RI) adalah menyatakan bahwa konflik Maluku sebagai konflik SARA, Ironisnya lagi sejak pecah konflik hingga saat ini pemerintah belum mampu mendeteksi dan mendiagnosa konflik Maluku secara holistik. Analisis yang salah oleh pemerintah RI ini, berakibat fatal pada kondisi masyarakat Maluku yang hingga kini hidup dalam bayang-bayang konflik dan diliputi rasa traumatik. Betapa tidak konsepsi atau formula yang ditawarkan dalam rangka penyelesaian konflik lebih banyak difokuskan pada retorika dialogis, berupa dialog budaya dan dialog agama bernama “Forum Baku Bae” yang kemudian dikerucutkan dengan lahirnya Perjanjian Malino II atas prakarsa Presiden RI Bapak Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden RI Yusuf Kalla (saat itu masing-masing menjabat sebagai Menkopolkam dan Menkokesra).
Idealnya, dari sekian agenda yang telah dilakukan, mestinya telah mampu menguak misteri dibalik konflik Maluku yang berkepanjangan, atau menjawab pertanyaan yang mungkin sampai saat ini masih menghiasi memori rakyat Maluku yakni, “Konflik SARA ataukah Separatis yang didalangi oleh RMS yang terjadi di bumi Maluku???”. Setidaknya itu merupakan amanah dari hasil Perjanjian Malino II, yang sudah seharusnya segera ditindak lanjuti oleh Pemerintah RI, akan tetapi pada faktanya sampai dengan saat ini, tidak ada pernyataan sikap dari Pemerintah RI untuk menyatakan bahwa konflik Maluku adalah murni Separatis RMS ?
Sungguh tidaklah sulit sebenarnya, untuk menyimpulkan inti persoalan, karena telah cukup bukti bahwa otak dibalik konflik Maluku adalah Separatis Republik Maluku Sarani (RMS), yang secara historis sejak pendeklarasiannya pada tanggal 25 April 1950 oleh Mr. Dr. Christian Roberth Steven Soumokil yang menyatakan memerdekakan dirinya dan terpisah dari Republik Indonesia. Pergerakan ini, dibiarkan beregenerasi dan selalu membayangi setiap desah nafas dan aliran darah mereka, yang hingga k i n i Bumi Maluku sebagai bagian yang tak terpisahkan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dinyatakan sebagai Republik Yang Hilang atau Tanah Yang dijanjikan. Akan tetapi yang menjadi tujuan akhir dari Separatis RMS ini, sebenarnya bukanlah hanya upaya memisahkan diri dari NKRI saja, tetapi kehendak untuk mengkristenkan Rakyat Maluku.
Tegasnya, kehendak DISINTEGRASI, oleh Separatis RMS digunakan hanya sebagai kedok untuk melegitimasi bahwa totalitas Rakyat Maluku menginginkan merdeka dan terpisah dari NKRI. Dengan kata lain perjuangan Separatis RMS adalah d e m i melindungi hak-hak rakyat Maluku?. kehendak tersebut, sangatlah kontras dengan kenyataan yang terjadi. Sungguh, jika benar obyek perjuangan Separatis RMS adalah disintegrasi bangsa, kenapa pula sejak tahun 1950 hingga kini, perjuangannya tidak didukung oleh Rakyat Maluku secara kolektif. Padahal jika dimaknai secara mendalam kaitannya dengan semangat otonomi daerah, sebenarnya konsepsi itu bertujuan baik sebagai koreksi terhadap pemerintah pusat akibat kesenjangan pembangunan antara pusat dan daerah, yang sudah barang tentu mestinya didukung oleh totalitas rakyat Maluku karena merasa dianak tirikan oleh Pemerintah RI, akan tetapi konsep itu tidak dapat dijadikan dasar pijakan karena pada faktanya tidak demikian.
A p a S e b a b n y a ?
Sekali lagi di t e g a s k a n bahwa disintegrasi bangsa yang dilakukan oleh Separatis RMS adalah bukan tujuan akhirnya, tetapi lebih dari pada itu adalah konsistensi dalam memperjuangkan konsep awal yakni, mendirikan Republik Maluku Sarani (dialek agama, Sarani adalah sama dengan Kristen). Olehnya itu pengistilahan RMS, sesungguhnya b u k a n REPUBLIK MALUKU SELATAN m e l a i n k a n REPUBLIK MALUKU SARANI sebagai cita-cita luhur Separatis RMS!. Inilah alasan yang sesungguhnya, mengapa totalitas Rakyat Maluku terutama Umat Islam tidak sepenuhnya mendukung perjuangan Republik Maluku Sarani (RMS) yang didalangi oleh Umat Kristen. Karena selain dari adanya upaya untuk memisahkan diri dari NKRI juga yang lebih berbahaya adalah gerakan Kristenisasi terhadap Rakyat Maluku pada khususnya dan Rakyat Indonesia pada umumnya. Perlu diketahui, hal ini telah menjadi rahasia umum dikalangan Rakyat Maluku, terutama umat Islam yang tidak menginginkan Maluku terpisah dari NKRI apalagi menjadikan Maluku sebagai Negara Republik Sarani.
Pemberontakan fisik yang dilakukan oleh Separatis RMS, sejak pendeklarasiannya pada tanggal 25 April 1950, yang berkelanjutan sampai dengan terjadinya ”Tragedi Idul Fitri Berdarah” pada tanggal 19 Januari 1999, adalah bentuk konsistensinya dalam memperjuangkan tujuannya. Namun pada kenyataannya pergolakan fisik belum mampu mewujudkan kehendak Separatis RMS karena mendapat perlawanan dari umat Islam dan Rakyat Pro NKRI.
Belajar dari tidak efektifnya pergolakan fisik yang terjadi sejak tahun 1950 hingga kini, maka oleh Separatis RMS, pola pergerakan diubah kearah non fisik (perang dingin). Konsep ini diawali dengan tindakan-tindakan diskriminatif yang dilakukan oleh pejabat pemerintahan daerah Maluku yang didominasi oleh umat Kristen, contohnya, Sistem Perekrutan Aparatur Negara seperti penerimaan PNS, POLISI, dan TNI yang telah diformat sedemikian rupa, sehingga memberikan keuntungan kepada pihak Separatis RMS, dalam rangka mewujudkan konsep negara saraninya.
Selain tindakan diatas, pembangunan sarana dan prasarana fisik dalam wilayah Maluku, lebih banyak di arahkan pada daerah-daerah yang di dominasi oleh umat Kristen, tentunya hal ini dengan sendirinya telah menimbulkan kerugian terhadap totalitas Rakyat Maluku, khususnya umat Islam.
Tidak cukup dengan metode itu saja, untuk memblow up gerakannya, Separatis RMS dengan kekuatannya dalam pemerintahan daerah Maluku, dalam hal penyelesaian terkait dengan konflik Maluku, hanya diarahkan pada proses perdamaian (islah), pendekatan adat istiadat Pella-Gandong, atau kalimat-kalimat manis seperti ”Damai itu Indah”, ”Katong Samua Basudara” dan ”Ale Rasa Beta Rasa”. Namun demikian, perlu dipahami bahwa konflik Maluku, bukanlah konflik SARA atau yang sering disimbolkan dengan pertentangan antara golongan merah dan golongan putih, melainkan pertentangan antara masyarakat yang pro NKRI (merah putih) dan masyarakat yang kontra NKRI (anti merah putih), yang mengarah pada disintegrasi bangsa dan ancaman bagi stabilitas negara yang dikategorikan sebagai Tindakan Makar, sehingga penanganannya harus segera dituntaskan.
Dari analisis tersebut diatas, muncul pertanyaan kemudian dengan tidak mengurangi rasa hormat pada Badan Intelijen Negara (BIN), apakah fungsi dan perangkat intelijennya tidak mampu mengungkapkan hal tersebut? Ataukah Pemerintah RI yang tidak cukup punya keberanian untuk bersuara terhadap konflik Maluku? Jika demikian, dapat disimpulkan bahwa sungguh berdosa bangsa Indonesia terhadap rakyat Maluku karena membiarkan rakyatnya hidup dalam suasana teror?
Perlu diketahui bahwa konflik Maluku merupakan tragedi kemanusiaan terbesar di Indonesia yang bukan saja menelan ribuan jiwa dan menghancurkan harta kekayaan, melaikan menimbulkan rasa traumatik yang berkepanjangan akibat gerakan Separatis RMS., namun empati seluruh rakyat Indonesia terhadap gerakan Separatis RMS tidak tampak, terbukti hingga kini konflik Maluku tidak pernah dianggap sebagai kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM).
Situasi ini semakin diperparah dengan pembentukan public opinion, yang beranggapan bahwa konflik Maluku sebagai konflik lokalan sehingga penyelesaiannya diserahkan kepada rakyat Maluku itu sendiri untuk menyelesaikannya. Tragis memang, walau pada kenyataannya konflik ini adalah ancaman serius terhadap eksistensi k e d a u l a t a n negara dan bangsa. Mungkinkah sebagai bangsa yang beradab rasa nasionalisme dan semangat kebangsaan kita sudah sedemikin terjerembab?
Telah jelas bahwa tindak brutal yang dilakukan oleh Separatis RMS merupakan pelanggaran HAM dan Makar terhadap NKRI, yang penanganannya harus dilakukan secara cepat dan simultan dengan tujuan membasmi Separatis RMS beserta simpatisannya. Karena logikanya dalam penyelesaian konflik atau delict, yang berakibat pada pelanggaran hukum dan HAM, mestinya ditindak lanjuti berdasarkan hukum atau konstitusi yang berlaku sebagai wujud implementasi dari asas The Rule Of Law bukan dengan menggunakan cara-cara rekonsiliasi atau islah. Sebab metode tersebut, tidak mencerminkan negara yang berasaskan hukum (Rechtstaat). Olehnya itu konflik Maluku h a r u s dituntaskan melalui jalur hukum, salah satunya adalah mengungkap aktor intelektual dibalik konflik Maluku termasuk menangkap tokoh-tokoh Separatis RMS seperti dr. Alex Manuputty yang sampai sekarang masih dibiarkan bebas tanpa tersentuh oleh proses hukum.
Gejala ini mencerminkan sikap enggan pemerintah dalam upaya solutif penyelesaian konflik Maluku. Hal ini terlihat jelas pada action pemerintah yang in order dan doble standar dalam penyelesaian konflik Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Aceh, Organisasi Papua Merdeka (OPM) di Papua dan RMS di Maluku. Jika pada konflik GAM dan OPM pemerintah menganggap sebagai tindakan disintegrasi bangsa yang mengancam ketahanan nasional, sementara untuk konflik Maluku dengan berbagai kelengkapan pembuktiannya dianggap angin lalu oleh pemerintah dalam penyelesaiannya, sehingga konflik Maluku tetap terpelihara dan cenderung dibiarkan membara, yang bukan tidak mungkin sewaktu-waktu memicu konflik baru karena Separatis RMS sebagai virus yang belum sepenuhnya dibersihkan.

Lanjut?

July 2, 2007

Kegiatan di Awal bulan Juli ini

Masih seperti biasa, bangun telat karena jam malam gak beraturan, saya melewati hari di awal bulan ini. Sampai-sampai orang tua sendiri bingung dengan kerjaan saya yang lebih banyak aktif di malam hari. Dua minggu lalu, Prof. Wahid mengajak saya untuk bergabung dalam perumus Rencana Strategi (renstra) Rumah Sakit Ibnu Sina. Sebenarnya saya masih sempat bingung koq saya yah yang diajak.
Meski masih awam tentang hal tersebut, saya coba bergabung dengan modal pengalaman organisasi sewaktu kuliah dulu. Kebetulan juga saya aktif di AMDA Indonesia membantu masalah teknis, dimana di LSM ini, Prof. Wahid sebagai wakil ketua, saya bisa memperlebar sayap jaringan untuk mendapatkan pekerjaan yang lain yang menantang dan menambah pundi-pundi finansial untuk biaya hidup, hehehe..
Konsep persiapan sudah saya siapkan untuk meeting lusa nanti, diskusi dengan Dr. Nurfiah, wakil direktur pelayanan medis, sudah saya lakukan untuk lebih mendalami manajemen rumah sakit Ibnu Sina dan Insya Allah, sesuai rencana, Renstra ini bisa rampung sampai akhir bulan Juli.

Disamping itu, masih seperti biasa, beberapa work item di kantor masih saya kerjakan, sambil menunggu report dari rekan lain dan juga feedback ala kadarnya dari Bos. Diluar dari itu, ada rencana juga untuk dua bulan mendatang mau membangun sebuah warnet dengan modal patungan dari beberapa teman pesantren. Insya Allah, September depan rencana ini bisa terealisasi. Saya cukup yakin karena modal yang terkumpul sekarang sudah mencapai 80% dari rencana anggaran biaya. Amiin

Satu lagi yang menjadi fikiran, rencana saya untuk membuat buku harus terealisasi juga secepatnya. Sudah lama tulisan itu tersimpan dalam komputer saya dan belum sempat untuk dibukukan. Sekedar informasi buat anda, buku itu akan membahas tentang Shalawat dan kedudukannya yang haqiqi dalam Islam. Kalau judul bukunya, nanti aja yah.. soalnya ini baru rencana sih.. hehehe..

Semoga saja untuk bulan Juli ini, semua rencana kegiatan dan pekerjaan dapat berjalan dengan baik, membanggakan dan juga bermanfaat.

Lanjut?